author photo



Yumaki dan Ibun, merupakan satu tim perwakilan Indonesia yang berangkat ke World Cosplay Summit pada tahun 2018 dan berhasil menyabet tempat kedua pada kompetisi Cosplay tingkat dunia tersebut.
Memulai bercosplay sejak 10 tahun lalu, saat berada di bangku SMP, Yumaki mengenal dunia jejepangan justru dari gurunya saat itu yang ternyata adalah seorang wibu. Sedangkan Ibun memulai bercosplay sejak 7 tahun silam saat berada di bangku SMA. Berkat penampilan ektrakurikuler jepang dari kakak kelasnya yang membawakan cabaret cosplay, Ibun pun jatuh hati pada dunia cosplay dan menyelami dunia jejepangan hingga saat ini.
Bercosplay selama hampir 1 dekade, suka yang dialami ternyata lebih banyak daripada duka. “Pas pake cosplay tokusatsu terus banyak anak-anak yang suka, apalagi kalau tau karakternya, itu rasanya bahagia banget, puas lah”, kata Yumaki saat menyampaikan suka cita saat bercosplay selama ini. Lain lagi dengan Ibun, menurutnya, saat dapat mewujudkan sebuah keinginan, mewujudkan dirinya sendiri menjadi sebuah karakter yang disukai dari sebuah anime atau serial tokusatsu itu adalah sebuah kebahagiaan, sebuah kepuasaan tersendiri. Untuk duka yang di alami, mereka sepakat jika kehabisan bahan baku atau sulit mendapatkan bahan untuk membuat kostum, itulah saat duka terjadi.



Event jejepangan merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh mereka, karena sebuah event adalah tempat bertemunya mereka dengan cosplayer-cosplayer yang lain, dapat bertemu teman yang sehobby dan mendapat teman baru juga. “Pergi ke Ennichisai itu kayak lebaran lah buat cosplayer, hehe”, kata Yumaki. Di event Ennichisai mereka dapat bertemu cosplayer dari berbagai daerah yang awalnya hanya dapat menyapa dari jejaring social Facebook atau Instagram.
Pertama kali mengikuti lomba cosplay sebagai tim, Yumaki dan Ibun mengikuti kompetisi cosplay di AFA ID. Kemudian sampailah mereka pada ICGP 2018. Saat nama mereka disebut sebagai finalis yang mewakili Indonesia di ajang lomba cosplay level dunia, WCS 2018, Yumaki dan Ibun hanya bisa terdiam sejenak dan kemudian menangis tidak menyangka mereka lolos.


Berangkat menuju jepang, ternyata perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Saat akan terbang, ternyata muatan mereka melebihi volume yang telah ditetapkan oleh pihak maskapai. Terancam tidak bisa membawa semua properti mereka, namun akhirnya di saat-saat terakhir masalah tersebut dapat diatasi berkat bantuan dari pihak ICGP dan Ennichisai.


Atmosphere yang terjadi di belakang stage WCS ternyata tidak seseram yang mereka bayangkan, justru suasananya sangat friendly, semua peserta saling mendukung satu sama lain. “Pokoknya disana itu kita saling support, semuanya bilang kalau ini panggung kita bersama, gak mudah buat sampe kesini, jadi kita harus kasih yang terbaik, yang maksimal. Semua bilang gitu disana”, begitu kata Yumaki.
Saat mereka berkesempatan untuk menyapa cosplayer dari belahan dunia lain di acara World Cosplay Summit, menurut mereka, cosplayer disana sangat totalitas dalam bercosplay. Bukan hanya soal kostumnya, tetapi juga dalam pendalaman karakter, cosplayer disana benar-benar berakting sesuai karakter dari peran yang mereka bawa.
Mereka berharap kepada semua cosplayer yang ada di Indonesia, agar dapat bercosplay dengan baik, berprestasi di hobby ini dan jangan lupa untuk bersenang-senang.

Next article Next Post
Previous article Previous Post